Situasi Sungai Brantas Yang Turun 10 Meter Akibat Penambangan Liar

Basic Sungai Brantas yg membentang mulai Blitar sampai Tulungagung, Jawa Timur, alami penurunan di antara 5-10 mtr. saat kurun dua tahun paling akhir. Penurunan basic sungai ini berlangsung gara-gara kesibukan penambangan pasir ilegal/liar yg terjadi masif di lokasi itu.

” Kesibukan penambangan udah menyebabkan kerusakan kontur sungai begitu kritis lantaran terjadi begitu masif serta tiada henti, ” kata Kepala Sub Divisi I/3 Perum Layanan Tirta I Wonorejo Hadi Witoyo di Tulungagung, Sabtu (15/6) .

Dia gak mengatakan rinci beberapa titik mana yg alami penurunan. Berdasarkan info Hadi Witoyo, penurunan basic sungai rata-rata di kira-kira tujuh mtr..

Akan tetapi situasi paling kritis di yakini berlangsung sekurang-kurangnya di 15 titik konsentrasi galian tambang pasir liar di lokasi Ngantru, terpenting timur Jembatan Ngujang, Ngunut serta Rejotangan. ” Walaupun sebenarnya sekurang-kurangnya 1 tahun sekali kami udah melakukan flushing (penggelontoran) pintu air Bendung Jegu serta Lodaya di Blitar jadi usaha menormalisasi basic sungai. Namun tetap juga basic sungai turun lantaran kesibukan penambangan sangat masif, ” pungkasnya.

Baca Juga : harga pasir bangunan 1 truk

Kesibukan penambangan pasir di tiga wilayah ini, terutama Ngantru memang hampir tak terselesaikan. Saat lebih dari tiga tahun, kesibukan penambangan pasir ilegal atau luar itu dilaksanakan terbuka tiada sekalinya tersentuh penyidikan aparat, baik kepolisian ataupun Satpol PP Ja-tim.

Volume pasir yg ditambang sehari-hari diprediksikan lebih 300 ritase (analisis 100-an truk dengan frekwensi pengangkutan satu hari 3 kali) dengan semasing pengangkutan capai rata-rata 5-7 kubik.

” Volume yg ditambang dapat dihitung sendiri bila dengan deskripsi kasar begitu, ” pungkasnya.

Hadi Witoyo malas mengatakan nilai kerugian negara yg dipicu penambangan pasir liar itu. Akan tetapi dengan analisis per ritase dump truk harga jual capai Rp 600 ribu (harga paling rendah buat jarak pendek) , jadi dalam satu hari omzet pasir yg diperdagangkan dapat capai Rp 180 juta atau dalam seminggu dapat tembus kerugian lebih kurang Rp 1, 26 miliar.

” Angka riil (kerugian) bisa saja makin lebih besar ketimbang estimasi, ” ujarnya.

Atas basic situasi sungai Brantas yg bertambah tidak baik itu, Perum Layanan Tirta bertindak sebagai pengelola Wilayah Saluran Sungai (DAS) Brantas mulai aktif melaksanakan usaha mencegahan serta penanggulangan awal soal penambangan pasir liar di selama Sungai Brantas. Satu diantaranya, lanjut ia, ialah dengan melaksanakan pemasyarakatan serta pemasangan isyarat peringatan kalau semua model penambangan material tanah, batu, sirtu ataupun tanah urug tiada diikuti izin yg resmi dilarang oleh negara serta diancam hukuman maksimum 10 tahun atau denda maksimum Rp 10 miliar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s